Kamis, 28 Juli 2022

Bahagianya Menjadi Doublelillah

Apa yang kerap dibayangkan tentang kehidupan setelah menikah saat masih menjomblo? Apakah sesuai dengan ekspektasi setelah menjalani pernikahan? 

Sebagai seorang yang tidak terlalu suka menghalu, rasanya kehidupan setelah menikah sesuai dengan ekspektasiku yang sejak awal sudah paham apa saja konsekuensi orang yang memutuskan untuk menjalani bahtera rumah tangga. 

Yang tidak sesuai adalah ekspektasi saat menjadi pengantin baru, kubayangkan yang indah-indah seperti yang ada di media sosial. Lagi mesra-mesranya, menikmati jalan-jalan berbulan madu, dan segenap bayangan indah lainnya. 

Ternyata justru saat pengantin baru langsung diberi banyak drama. Segenap keribetan beradaptasi yang langsung disempurnakan dengan hadirnya dua garis merah jambu sebelum pernikahan genap satu bulan. Tak ada waktu untuk belajar menjadi istri yang sempurna karena sudah dituntut belajar beradaptasi dengan status istri sekaligus calon ibu, seorang pekerja pabrik plus seorang mahasiswi dengan deadline skripsinya. Kesabaran yang benar-benar diasah ketajamannya. 

Namun alhamdulillah, ternyata semua kado takdir itu diberi Allah untuk menempa diriku menjadi semakin lebih kuat dari sebelumnya. Aku tidak diberi kesempatan untuk menikmati indahnya menjadi pengantin baru karena ternyata agar aku merasakan indahnya menjadi ibu dua anak. 

Memiliki dua anak dengan selisih usia yang tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh. Dua anak berjarak 3 tahun yang begitu menyenangkan sekali mengasuh mereka. 

Dengan privilage yang kumiliki, yaitu kontrak di daerah yang dekat dengan orang tua, semakin menambah rasa syukur dalam kalbu. 

Benar janji Allah, semakin kita bersyukur, semakin akan Allah tambah nikmat-Nya. Banyak sekali hal yang benar-benar membuatku bertambah yakin akan kuasa Allah. Ujian tentu pasti ada, namun sepaket juga dengan begitu berlimpahnya karunia yang Allah berikan. 

Bahagianya menjadi Doublelillah. Lelahnya adalah ibadah, syukurnya adalah berkah, dan doanya adalah anugerah.

Mengasuh dua anak semakin mengajarkanku akan makna sesungguhnya dari sebuah kesabaran dan mengontrol emosi. Masyaa Allah tabarakallah. 

Dua anak yang tumbuh sehat, cerdas dan sholih sholihah, insyaa Allah. 

Jazakumullah khair, anak-anakku, sudah menjadi warna indah dalam bahtera ini :). 


Quotes Favorit sang Introvert

Perbaiki hubungan kita dengan Allah, niscaya Allah akan perbaiki hubungan kita dengan manusia. 

Aku sering mendengar kalimat di atas dan berputar-putar di benakku. Kalimat itu adalah layaknya air segar yang membasahi tanah gersang. Diriku ini bukanlah orang yang pandai bergaul dan tak tahu harus dari mana memulai untuk menjadi orang yang luwes di lingkungan sosial. 

Maka membaca kalimat di atas, rasanya aku merenungkan dalam-dalam akan maknanya. Bagaimana bisa, memperbaiki hubungan dengan Allah maka otomatis hubungan dengan manusia juga akan baik? 

Ya, tentu saja. Dengan kita terus belajar ilmu agama, paham dimana letak kesalahan ibadah kita sehingga kualitas ibadah kita semakin baik dan selalu berusaha menjaga keikhlasan demi membaguskan hubungan kita dengan Allah, maka Allah akan menuntun kita untuk tahu mengenai ilmu adab dalam bergaul dengan manusia atau makhluk Allah lainnya. 

Setelahnya, kita akan dituntun untuk mudah mengamalkan apa yang sudah kita ketahui. Tak kalah penting, Allah akan condongkan hati manusia-manusia yang sefrekuensi dengan kita dan yang kurang nyaman dengan kita akan menjauhi atau menjaga jarak sendiri tanpa harus melalui sebuah pertikaian. 

Namun, janganlah lengah akan tipu daya nafsu kita yang merasa sombong atau lebih baik dari yang lain. Ujian terbesar seseorang yang sedang semangat dalam mengerjakan ketaatan adalah merasa superior dari yang lainnya. Sibuk menilai-nilai kualitas ibadah orang lain. 

Ya, perbaiki hubungan kita dengan Allah, maka Allah akan perbaiki hubungan kita dengan manusia lainnya. 

Bukankah nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak? Maka sejatinya inti agama islam adalah akhlakul kharimah. 

Jika fokus dengan hubungan sesama manusia saja tanpa pedulikan fokus hubungan pada Allah, maka yang ada hanyalah keresahan. Karena kita tidak mungkin menyenangkan semua manusia, pasti ada saja yang tidak suka dengan kita. Perbuatan baik yang kita sangka sudah melakukan yang terbaik tetap saja ada yang tidak suka baik dari segi caranya, maupun disalah pahami sehingga menimbulkan rasa benci. 

Maka yang paling baik tentu saja fokus mencari ridho Allah agar Allah senantiasa menjaga dan melindungi kita. 

Harapan Sebagai Penulis

Semakin bertambahnya usia, semakin aku merasa tidak lagi lepas dalam mengekspresikan perasaan, apalagi tulisan. Apakah itu tanda bahwa aku tidak lagi jadi diriku sendiri? Hm, tidak juga. 

Karena menjadi diri sendiri bukan berarti bersikap semaunya, berkata tanpa mempertimbangkan manfaat atau mudhorotnya, and so on. 

Percayalah, jika rasa malu itu sudah diputus dengan dalih menjadi diri sendiri, tak akan ada lagi privasi dalam hidup manusia. Menelanjangi diri sendiri di media sosial yang arusnya begitu liar. 

Menyematkan diri sebagai seorang penulis berarti mengemban tanggung jawab yang tidak main-main (bagiku). Membagikan buah pikiran yang nantinya akan menjadi inspirasi dan diam-diam diteladani dalam kehidupan sehari-hari. 

Menjadi penulis tidak sesederhana menyemburkan kata demi kata untuk pembacanya. Awali dengan bismillah, niatkan karena Allah dengan menebarkan tulisan kebaikan, pahami etika dan adab, serta berlapang dada atas segala respon pembaca. 

Aku hanya ingin ketika aku meninggal nanti, tulisan-tulisanku menjadi sebuah pahala jariyah, bukan sebaliknya. Hanya Allah sebaik-baik penolong. 


10 Motivasi Menjadi Disiplin

Untuk menjadi orang yang disiplin, ada banyak alasan yang bisa memotivasi kita. Salah satunya adalah karena dengan menjadi orang yang disipl...