Senin, 08 November 2021

Catatan Seorang IRT (hari ke 8)

~Kunci Ketenangan : Memaafkan dan Fokus Tujuan~

Bismillah, assalamualaikum. 

Memaafkan, tidak semudah mengucapkan. Namun sungguh itu kunci ketenangan diri. Mudah memaafkan bukan berarti lemah. Selama kita sandarkan semuanya kepada sang pemilik hati, Allah. 

Ketika ada yang menyakiti kita dengan lisannya atau sikapnya, sengaja maupun tidak sengaja ... jika kita terus membiarkan luka itu menganga apalagi mengingatnya tanpa bertujuan mengambil hikmah, maka yang ada hanyalah kegelisahan tak berkesudahan. 

Sementara mereka yang menyakiti justru tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan menggores hati. Mereka menjalani kehidupan dengan sebagaimana biasanya, sementara kita masih berkutat dengan luka. 

Daripada begitu, lebih baik maafkanlah, ambil pelajaran dan fokus kembali dengan tujuan hidup kita. Tidak perlu menggebu menjadi lebih baik atau lebih hebat demi menunjukkan kepada orang yang melukai kita. Karena akan menyakitkan jika ternyata keberuntungan hidup tak juga berpihak pada kita. Akan jauh lebih mendamaikan kalau kita berusaha menjadi lebih baik semata-mata karena kita menyayangi kehidupan kita sendiri dan ingin menjadikannya selalu lebih baik dari waktu ke waktu. 

Sandarkan semua karena Allah. Apabila ada yang menggores luka, keluhkan pada Allah dan berdoalah agar dilapangkan hati untuk memaafkan. Allah adalah hakim yang paling adil. Pasti semua perbuatan tidak akan menguap begitu saja, selalu ada balasannya, tetapi balasan itu bukan urusan kita. Allah paling tahu balasan terbaik buat hamba-Nya agar mereka bisa mengambil pelajaran dari situ.

Jangan lupa kita juga harus banyak-banyak memohon ampunan-Nya. Barangkali juga ternyata banyak sikap kita yang menyakiti orang lain tanpa kita sadari. Manusia bukanlah malaikat. Manusia tempatnya salah dan khilaf. Semoga Allah mudahkan kita untuk bersikap baik dan dijauhkan dari sikap mendzolimi orang. Ya, meskipun juga kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Setidaknya kita sudah berikhtiar untuk menghindari sikap menyakiti orang baik dengan lisan maupun sikap. 

Fokus terus dengan tujuan utama hidup kita sebagai hamba Allah. Yaitu kembali pada-Nya dalam keadaan sebaik-baiknya atau dalam ketaatan. Kembali pada-Nya ketika kita tengah berusaha berubah lebih baik atau dalam pertaubatan. 

Jadikan segala aspek kehidupan yang kita lakukan adalah tujuannya ke Allah. Memperlakukan pasangan dengan sebaik-baiknya karena Allah. Mendidik anak karena Allah. Bersikap baik terhadap sesama karena Allah. Mencari uang pun bisa jadi ibadah jika kita pandai menata niat dengan benar. Mencari uang karena kita tidak ingin menyusahkan orang, ingin mudah bersedekah atau yang lainnya. Intinya dengan niat baik, tidak melupakan ibadah dan tujuannya ke Allah. 

Memaafkan dan fokus dengan tujuan hidup kita. Terus berjalan, tak terbang dipuji dan tak tumbang dicaci. Karena Allah kita bisa bertahan sampai detik ini. Manfaatkan setiap waktu yang kita miliki saat ini dengan baik. Semoga Allah selalu menaungi kita dengan rahmat dan hidayah-Nya.

Sidoarjo, 09 November 2021

4:53 wib


Minggu, 07 November 2021

Catatan Seorang IRT (hari ke 7)

 ~Anak Kecanduan Gadget~

Bismillah, assalamualaikum. 

Hari ini mau berbagi pengalaman aja tentang cara melepas anak dari kecanduan gadget. Mungkin ada yang pro dan ada yang kontra dengan kedekatan anak sama gadget. 

Ada tipikal pola pengasuhan yang nggak ngebolehin sama sekali anak pegang gadget. 

Ada juga tipikal pengasuhan yang membolehkan anak pegang gadget dengan durasi tertentu. 

Dan ada juga tipikal pengasuhan yang membebaskan anak pegang gadget dan bahkan ada yang dibelikan gadget pribadi. 

Kali ini aku mau bahas gadget untuk usia dini. Soalnya anakku juga masih berusia 3 tahun lebih 4 bulan, jadi yang bisa aku bagi sesuai dengan yang sudah kualami aja. 

Jadi aku itu seneng banget dengan dunia tulis menulis dan membaca. Aku lebih sering menuangkannya di ponsel dibanding buku. Ini karena sejak menikah, aku memutuskan untuk nggak intens nulis diary karena malu kalau dibaca pak suami, hehe. 

Nah, awal tahun 2019 aku resign kerja dan mulai mencari kesibukan. Aku mulai menekuni dunia literasi yang sempat aku vakumkan. 

Selain itu, kesibukanku sebagai IRT membuatku memegangkan gadget ke anakku yg masih bayi. Jadi, kalau aku mau sholat atau nyuci bentar, si kecil aku lihatin video di hape. 

Nah, nggak kerasa waktu berjalan. Waktu itu harusnya anakku sudah bisa merespon kalau diajak bercanda atau ngomong. Tapi anakku sikapnya datar saja. Kupikir karena dia memang pendiam. 

Dan saat liat IGS temanku sedang mengajak bercanda anaknya yang seusia anakku (sekitar usia belum genap setahun). Anak temanku sudah bisa merespon ketika diajak bercanda, bisa tertawa tergelak-gelak. "Kok anakku enggak, ya?" pikirku heran. 

Aku pun bertanya ke temanku itu melalui DM, sharing tentang anak. Dari beberapa obrolan, yang paling ngejleb adalah tentang komunikasi visual. Jadi, selama ini memang aku mengajak ngobrol anakku tapi visualku tidak terlalu fokus dengannya atau kurang ekspresif. 

Tersadar, aku akhirnya mulai membatasi gadgetku. Tetap menulis tetapi ketika si kecil tidur. Alhamdulillah lama-lama si kecil berubah lebih baik. Dia mulai cerewet dan periang. 

Kemudian, kisaran dia berusia dua tahunan. Aku mulai merasakan sikapnya yang sering tantrum. Akhirnya aku mulai memutuskan untuk pelan-pelan melepas gadget. Sampai ke usianya yang mau tiga tahun, aku merelakan untuk vakum dari dunia literasi. 

Aku sudah mulai tidak pernah update apa pun di platform menulis dan jarang posting di IG. Kumulai dari diriku sendiri untuk  melepas kecanduan gadget pada anakku. 

Alhamdulillah sikapnya berubah sudah mulai jarang tantrum dan cepat sekali perkembangan ingatannya. 

Dan sekarang dia sudah tidak heboh lagi saat aku pegang hape. Karena aku juga jarang menyentuh ponsel, kecuali di saat penting sekali. 

Ketika anakku sudah mulai tidak terlalu tertarik dengan gawai, aku jadi sudah bisa sedikit-sedikit mulai kembali menulis. Dan tulisan di blog ini adalah buktinya. 

Jadi, pertama sekali untuk melepas kecanduan gadget untuk anak memang dari orang tuanya dulu. Bagiku ini butuh perjuangan karena di rumah pun tidak ada televisi. Jadi tidak ada yang mengalihkan anak dari gadget kecuali mainan dan itu pun aku harus menemaninya. 

Kenapa aku dan pak suami memutuskan untuk tidak ada televisi juga untuk anak? Karena kami termasuk keluarga yang ingin menghindari musik. Kalau di ponsel, kami bisa memilih tontonan apa yang tidak mengandung musik, kami bisa mengubah setingan suara panggilan atau alarm dengan nada angin, air atau suara murotal. Kami juga bisa langsung skip iklan atau memelankannya ketika ada musiknya. 

Tapi kalau di televisi, sepertinya full musik. Iklan juga banyak yang lebih menonjolkan nyanyian dan tarian diiringi musik. 

Kami berpedoman pada hadist ini :

Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik." (HR. Bukhori) 

Anakku melihat televisi hanya saat dia berkunjung ke rumah neneknya saja. 

Mungkin yang belum terbiasa akan menganggap aneh dan seolah keluarga kami kurang hiburan.

Tapi alhamdulillah kami hidup tenang dan bahagia tanpa musik. Kami bisa lebih menikmati alunan alquran dengan kebahagiaan. Kami tetap bisa bercanda dan merasakan kegembiraan.

Kenapa sih kekeuh buat membatasi gadget ke anak? 

Karena berdasarkan yang kualami dan mengamati beberapa anak, terlalu lama dengan gadget membuat anak lebih agresif dan kurang fokus. Emosinya juga menjadi tidak stabil atau kurang bisa mengendalikan diri. 

Aku belum mempelajari lagi sih, kenapa kok gadget berlebihan bisa membuat anak kurang bisa mengendalikan dirinya. Insyaa Allah mau cari tahu dulu nanti baru bisa share. 

Jadi, boleh-boleh aja sih anak lihat gadget, tapi usahakan jangan terlalu sering atau terlalu lama durasinya. Malah kalau bisa dalam sehari nggak lihat gadget sama sekali. Tapi, tentunya ibu-ibu yang punya kesibukan/anak lebih dari satu dan dihandle sendiri akan agak kesulitan ya. Yang penting udah berupaya untuk membatasi durasinya. Semoga Allah mudahkan. 

Meminimalisir anak menggunakan gadget, bukan langsung melarangnya, tapi mengalihkannya dengan hal lain yang menyenangkan, misalnya buku cerita atau permainan yang lain. 

Terus usahakan kalau kita lihat gadget nggak di depannya langsung atau sembunyi-sembunyi. Setelah dia sudah nggak kecanduan, si anak akan biasa saja sih kalau kita lihat gadget. Tapi jangan lama-lama juga memperlihatkan aktivitas kita dengan gadget di depan anak, nanti dia mulai kecanduan lagi karena merasa nggak diperhatikan. Ini menurut pengalamanku aja sih. 

Sekian cerita dariku ^_^> . 

Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan. Bisa sharing-sharing kalau punya pendapat lain. 

Wassalamualaikum... 

Sidoarjo, 08 November 2021.

Rabu, 03 November 2021

Catatan Seorang IRT (hari ke 6)

~Manajemen Emosi~

Bismillah... 

Assalamualaikum. 

Aku pernah mendengar sebuah ceramah bahwa seorang yang sabar atau stabil emosinya itu dibagi dua, yaitu orang yang memang diberi anugerah Allah memiliki sikap sabar sedari kecil, dan yang kedua adalah orang yang sabar karena hasil usaha kerasnya. 

Nah, jadi kalau ada orang yang menisbatkan diri bahwa dia memang berkarakter pemarah dan nggak bisa diubah, itu kurang tepat ya. Karena kesabaran itu bisa diusahakan asalkan ada kemauan. 

Buat para ibu, sikap emosi yang stabil ini juga penting banget lho. Karena ibu kan madrasah pertama bagi anak. Kalau ibunya emosian dan nggak bisa mengendalikan diri, dikhawatirkan akan menyalurkan sikap itu ke anaknya. 

Semua ini demi buah hati yang diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang dewasa atau bijak dalam menyikapi sebuah masalah. Tidak cepat uring-uringan atau mencari kambing hitam ketika terdapat hambatan di depannya. 

Berikut ini tips manajemen emosi buat para Mama yang sedang berjuang mengasuh dan mendidik anak tapi juga disibukkan dengan pekerjaan lain yang menguras energi dan kesabaran. 

Tips yang pertama, tanamkan niat

Niat apa sih? Yaitu niat yang kuat untuk belajar istiqomah menstabilkan emosi supaya anak juga terdidik menjadi pribadi yang sabar dan dewasa. 

Ulang-ulang dan ingat terus niat itu agar ketika kita mulai tersulut api amarah dan hendak meledakkan emosi atau memukul si kecil, kita teringat akan niat itu kemudian mengurungkan untuk melampiaskan kemarahan secara total. 

Marah boleh kok, Bu. Asalkan marah yang elegan, marah yang lebih menampilkan ketegasan daripada omelan, cacian atau pukulan. 

Tips yang kedua, sering sisipkan nasehat kesabaran untuk anak. 

Tidak harus menasehati secara frontal, bisa juga dengan sering dibacakan dongeng kisah-kisah nabi yang begitu sabar dan tangguh menghadapi ujian. Juga kisah nabi Ibrahim yang tetap lembut dan berbakti pada ayahnya sekalipun ayahnya menentang dakwahnya. 

Ceritakan bagaimana Allah suka dengan orang-orang yang sabar, balasan orang yang sabar dan bagaimana sabar itu mampu mendatangkan keberuntungan juga ketenangan dalam hidup. 

Mensehati anak ketika dia hendak tidur atau ketika dia sedang makan makanan kesukaannya. Menasehati dengan bahasa yang santai dan lembut. Jangan lupa berikan pujian juga ketika anak berhasil mengendalikan emosinya. 

Tips ketiga, jangan selalu dituruti keinginannya atau dimanja. 

Terkadang maksud orang tua itu sayang dan membahagiakan anak. Tapi ternyata anak yang dimanja lebih berpotensi memiliki sikap egois dan tidak sabaran. Karena terbiasa apa-apa ada dan dituruti. 

Sikap ini bisa terbawa sampai dia dewasa. Terlalu dimanja dan mendapat kasih sayang berlebihan, justru malah membuat dia merasa kurang dan kurang terus diberi kasih sayang. Apalagi jika memiliki saudara kandung, dia tidak rela kasih sayangnya terbagi. 

Kita perlu ada masa untuk menurutinya dan ada masa untuk menahan diri untuk tidak menuruti meskipun dia merengek atau rewel. 

Anak perlu belajar menahan diri dan belajar bahwa tidak semua yang kita inginkan dalam hidup bisa terwujud. 

Tips keempat, sering ingat-ingat nikmat Allah agar energi positif terkumpul. 

Ketika diri merasa lelah dan tidak stabil emosinya. Ingat-ingat hal-hal yang indah dalam kehidupan kita. Ingatlah bahwa pernikahan kita adalah impian para jomblo yang belum ditakdirkan menemukan jodohnya. 

Ingat juga bahwa anak-anak kita yang begitu menguras kesabaran adalah impian orang-orang yang belum dikaruniai anak. 

Banyak hal yang bisa disyukuri dalam hidup meski dalam kesempitan sekali pun. Karena Allah tidak mungkin menguji seorang hamba kecuali berdasarkan kadar kesanggupannya. 

Semakin banyak bersyukur, semakin banyak energi positif terkumpul dan menjadikan kota bersemangat dalam hidup. 

Tips kelima, bersemangat dalam beribadah

Banyak orang yang tersinggung jika kestabilan emosi dikait-kaitkan dengan ibadah. Nyatanya, inilah ikhtiar kita untuk lebih mendekatkan diri pada Allah sang penguasa hati. 

Allahlah yang membolak-balikkan hati seseorang. Dari sedih menjadi bahagia, dari susah menjadi senang, dari berduka menjadi bersemangat. 

Jika merasa sudah banyak beribadah tapi emosi masih saja tidak stabil, coba cek dulu barangkali ada yang salah dengan ibadah kita. Entah dari ketepatan waktunya, dari tata caranya yang kurang tepat, atau dari niatnya yang mungkin kurang ikhlas. 

Tips keenam, tinggalkan hal-hal yang bukan urusan kita. 

Sudah bukan hal yang asing lagi. Emak-emak identik dengan ghibah dan ngomentarin orang lain. Padahal hal itulah yang memicu potensi lebih mudah emosi bagi para emak-emak. 

Dari ghibah, muncul sikap-sikap tercela yang lain, seperti hasad (iri dengki), namimah (adu domba), ujub (bangga diri) dan lain sebagainya. 

Jadilah lebih banyak para ibu yang bersaing untuk memuaskan rasa ingin dihargai atau dianggap lebih unggul dari kehidupan orang lain daripada para ibu yang saling mendukung dan menghargai ibu lainnya. 

Tapi apa sih manfaatnya menjatuhkan orang lain untuk kemudian diri kita dianggap paling unggul? 

Hanya pujian-pujian semu yang tidak membawa keberkahan dari kehidupan kita. Yang ada hanyalah menunggu masa balasan dari Allah atas kejahatan lisan kita. Berapa banyak yang hidupnya justru berbalik menjadi seperti apa yang sering dia ghibahi atau komentari. 

Jadi, stop ikut campur dalam kehidupan orang lain jika tidak diminta bantuan atau solusi darinya. 

Membantu orang menyelesaikan kepelikan hidupnya juga ada adabnya. Tidak serta merta kita langsung seolah punya andil untuk ikut campur apalagi menyebarkan aibnya. 

Tips ketujuh, tentu saja mohon pertolongan Allah untuk dimudahkan. 

Ikhtiar dan doa selalu berjalan sejajar beriringan agar kita tidak merasa melakukan semuanya sendirian. Tentu semua karena Allah yang memberi keleluasaan. 

Jangan sekali-kali putus asa dari pertolongan Allah. Tetap optimis bahwa kita bisa melakukan yang lebih baik dan terus lebih baik dari diri kita di masa sebelumnya. 

Baiqlah, itu tadi tentang manajemen emosi. Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat bagi teman-teman. 

Terima kasih yang sudah berkenan mampir dan membaca. 

Wassalamualaikum :) 

Sidoarjo, 4 November 2021.

Selasa, 02 November 2021

Catatan Seorang IRT (hari ke 5)

~Manajemen Keuangan Bebas Utang & Riba~

Bismillah. 

Assalamualaikum ... 

Bahasan kali ini judulnya kayak motivator-motivator finansial gitu ya. Tapi aku nggak pengen bahas ini dengan formil meskipun aku pernah menempuh pendidikan di jurusan manajemen. 

Bahasan kali ini pun juga bukan berdasar dari teori yang pernah aku pelajari, tapi dari pengalaman aja. Karena aku memang berkarakter plegmatis, jadi nggak terlalu telaten untuk yang detail atau terperinci. 

Jadi, manajemen keuangan bebas utang dan riba itu sebenarnya rumusnya simple bagiku. 

Yang pertama adalah niat untuk sebuah komitmen. 

Jadi, tanamkan niat sungguh-sungguh dalam hati kalau kita mau jadi muslim yang amanah agar terbebas dari tanggungan utang. Karena seperti yang kita ketahui, Rasulullah pun enggan menyolati orang yang masih punya tanggungan utang di dunia. Ini menandakan kalau Rasulullah ingin mengajarkan umatnya untuk bertanggung jawab menuntaskan amanahnya, terutama yang berkaitan dengan muamalah kepada orang lain agar terhindar dari sikap dzolim. 

Kalau kita benar-benar meniatkan itu. Maka saat kita punya utang, kita tidak menganggap utang itu sebagai rejeki, tapi malah sebagai beban yang kita harus selalu ingat dan membayarnya. Entah itu kita cicil atau kita bayar cash langsung, yang jelas kalau dari diri kita sudah ditanamkan niat agar bebas utang, maka insyaa Allah diberi kemudahan Allah untuk melunasinya. 

Yang kedua, sederhanakan gaya hidup.

Gaya hidup ini erat kaitannya dengan hawa napsu. Jadi napsu yang ingin makan enak, jalan-jalan di saat keuangan mepet, sebaiknya ditahan dulu, deh. Prioritaskan yang pokok dulu. Misalkan uang kita lima puluh ribu, tahan dulu keinginan untuk makan di luar. Belanja sederhana atau beli lauk sederhana yang kira-kira masih ada sisa uang untuk ditabung. 

Ini kualami saat masih bujang dulu. Meski bujang tapi karena anak pertama dan kuliah dengan biaya sendiri, jadi harus pinter-pinter ngatur keuangan. 

Pernah pas keuangan lagi mepet, aku cuma makan mie burung dara direbus, dicampur royco. Karena kalau mie instan berbumbu kan lebih mahal meski selisih sedikit. Meski sebenarnya orang warung mempersilahkan aku untuk berutang, tapi aku nggak pengen punya tanggungan hanya demi makan enak. Nanti jadi kebiasaan. 

Karena targetku, kalau aku menikah, aku sudah tidak punya utang bayar kuliah atau apapun. Malah kalau bisa sudah punya tabungan nikah. 

Yang ketiga, rajin-rajin bersyukur. 

Bersyukur adalah power untuk menikmati hidup. Tanpa rasa syukur, hidup terasa hambar bagai sayur tanpa bumbu. 

Jika kita bersyukur, kita akan merasa cukup dan puas dengan kehidupan kita. Makan nasi lauk kecap dan kerupuk akan menjadi nikmat ketika kita mengingat bahwa masih banyak yang tidur di emperan jalan karena nggak punya tempat tinggal dan uang buat sewa tempat tinggal. 

Tapi, makan nasi lauk brengkes tongkol sayur asem akan menjadi seolah nelangsa kalau yang kita lihat adalah gaya hidup bak selebriti yang bisa jalan-jalan dan makan di restoran sepuasnya. 

Biarinlah dinyinyirin orang karena kita hidup sederhana, daripada mempertahankan gaya hidup tapi dengan utang yang belum tentu umur kita cukup untuk melunasinya. 

Yang keempat, atur skala prioritas dengan sesekali (atau kalau bisa rutin malah bagus) buatlah catatan pengeluaran selama sebulan. Dari situ kita bisa tahu mana yang bikin boros. Misalkan kebanyakan makan di luar atau pampers anak yang bikin banyak pengeluaran. Jadi kita bisa cari solusinya. 

Misal, saat aku menyadari pampers anak adalah salah satu pemborosan, maka aku pelan-pelan mengurangi pemakaiannya. Jadi ada masa aku harus kerepotan mengepel pipisnya dan ada masa aku bisa bebas melakukan pekerjaan rumah karena anak kupakaikan popok. 

Kemudian kita harus bijak dalam mengatur prioritas pengeluaran. Jangan mudah tergoda untuk berbelanja barang yang bukan prioritas kecuali kita memang sudah punya anggaran khusus dari kelebihan uang belanja kita. 

Yang kelima, tetaplah bersedekah dan menabung meski sedikit. 

Sedekah meski hanya mampu lima ratus perak di waktu sempit itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.  Tetapi saat keuangan membaik jangan lupa tingkatkan nominalnya. Sedekah adalah tabungan akhirat kita di dunia, jangan sampai kita sia-siakan. 

Menabung juga begitu, menabung sedikit demi sedikit lebih baik daripada tak punya tabungan sama sekali. Menabung bisa jadi motivasi kita untuk tidak mudah boros dan menghamburkan uang tanpa perhitungan. 

Yang keenam atau terakhir, mohon pertolongan Allah agar diberi kemudahan dan jangan sampai kita merendahkan orang lain yang hidupnya masih terlilit utang entah karena gaya hidup ataupun memang kebutuhan. 

Kita bisa hidup bebas dari utang karena Allahlah yang memudahkan. Bukan semata-mata karena kita hebat. Jadi jangan sekali-kali nyinyirin orang lain. Perbanyak istighfar lebih melapangkan rejeki daripada ghibah yang menggerus pahala. 

Untuk terbebas dari utang atau riba memang butuh berjuang. Karena terkadang ujiannya bukan dari diri sendiri tapi dari keluarga. Misalkan keluarga yang tidak bisa untuk makan apa adanya membuat pengeluaran jadi lebih boros. 

Maka kita harus lebih sabar dan telaten untuk menyiasatinya. Entah itu dengan telaten memberi pengertian tentang bersyukur dan berhemat, atau kita menyiasati dengan belajar memasak masakan yang terlihat wah dengan bahan yang sebenarnya tidak mengeluarkan banyak biaya. 

Atau anak yang suka jajan, pelan-pelan kita beri pengertian untuk mengurangi kebiasaan jajannya. Bisa juga kita buatkan cemilan-cemilan sederhana buat si anak. 

Nah, kayaknya itu aja deh saran dari aku. Coba dipraktekkan. Bisa juga ditambah sendiri sesuai dengan kemampuan teman-teman. Misalkan untuk terbebas dari utang bisa menjalankan bisnis kecil-kecilan. 

Apa pun itu, semoga niat baik teman-teman bisa diberi kemudahan oleh Allah. 

Tetap semangat dan utamakan ibadah :). 

Wassalamualaikum. 

Sidoarjo, 3 November 2021.


10 Motivasi Menjadi Disiplin

Untuk menjadi orang yang disiplin, ada banyak alasan yang bisa memotivasi kita. Salah satunya adalah karena dengan menjadi orang yang disipl...