~Manajemen Emosi~
Bismillah...
Assalamualaikum.
Aku pernah mendengar sebuah ceramah bahwa seorang yang sabar atau stabil emosinya itu dibagi dua, yaitu orang yang memang diberi anugerah Allah memiliki sikap sabar sedari kecil, dan yang kedua adalah orang yang sabar karena hasil usaha kerasnya.
Nah, jadi kalau ada orang yang menisbatkan diri bahwa dia memang berkarakter pemarah dan nggak bisa diubah, itu kurang tepat ya. Karena kesabaran itu bisa diusahakan asalkan ada kemauan.
Buat para ibu, sikap emosi yang stabil ini juga penting banget lho. Karena ibu kan madrasah pertama bagi anak. Kalau ibunya emosian dan nggak bisa mengendalikan diri, dikhawatirkan akan menyalurkan sikap itu ke anaknya.
Semua ini demi buah hati yang diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang dewasa atau bijak dalam menyikapi sebuah masalah. Tidak cepat uring-uringan atau mencari kambing hitam ketika terdapat hambatan di depannya.
Berikut ini tips manajemen emosi buat para Mama yang sedang berjuang mengasuh dan mendidik anak tapi juga disibukkan dengan pekerjaan lain yang menguras energi dan kesabaran.
Tips yang pertama, tanamkan niat.
Niat apa sih? Yaitu niat yang kuat untuk belajar istiqomah menstabilkan emosi supaya anak juga terdidik menjadi pribadi yang sabar dan dewasa.
Ulang-ulang dan ingat terus niat itu agar ketika kita mulai tersulut api amarah dan hendak meledakkan emosi atau memukul si kecil, kita teringat akan niat itu kemudian mengurungkan untuk melampiaskan kemarahan secara total.
Marah boleh kok, Bu. Asalkan marah yang elegan, marah yang lebih menampilkan ketegasan daripada omelan, cacian atau pukulan.
Tips yang kedua, sering sisipkan nasehat kesabaran untuk anak.
Tidak harus menasehati secara frontal, bisa juga dengan sering dibacakan dongeng kisah-kisah nabi yang begitu sabar dan tangguh menghadapi ujian. Juga kisah nabi Ibrahim yang tetap lembut dan berbakti pada ayahnya sekalipun ayahnya menentang dakwahnya.
Ceritakan bagaimana Allah suka dengan orang-orang yang sabar, balasan orang yang sabar dan bagaimana sabar itu mampu mendatangkan keberuntungan juga ketenangan dalam hidup.
Mensehati anak ketika dia hendak tidur atau ketika dia sedang makan makanan kesukaannya. Menasehati dengan bahasa yang santai dan lembut. Jangan lupa berikan pujian juga ketika anak berhasil mengendalikan emosinya.
Tips ketiga, jangan selalu dituruti keinginannya atau dimanja.
Terkadang maksud orang tua itu sayang dan membahagiakan anak. Tapi ternyata anak yang dimanja lebih berpotensi memiliki sikap egois dan tidak sabaran. Karena terbiasa apa-apa ada dan dituruti.
Sikap ini bisa terbawa sampai dia dewasa. Terlalu dimanja dan mendapat kasih sayang berlebihan, justru malah membuat dia merasa kurang dan kurang terus diberi kasih sayang. Apalagi jika memiliki saudara kandung, dia tidak rela kasih sayangnya terbagi.
Kita perlu ada masa untuk menurutinya dan ada masa untuk menahan diri untuk tidak menuruti meskipun dia merengek atau rewel.
Anak perlu belajar menahan diri dan belajar bahwa tidak semua yang kita inginkan dalam hidup bisa terwujud.
Tips keempat, sering ingat-ingat nikmat Allah agar energi positif terkumpul.
Ketika diri merasa lelah dan tidak stabil emosinya. Ingat-ingat hal-hal yang indah dalam kehidupan kita. Ingatlah bahwa pernikahan kita adalah impian para jomblo yang belum ditakdirkan menemukan jodohnya.
Ingat juga bahwa anak-anak kita yang begitu menguras kesabaran adalah impian orang-orang yang belum dikaruniai anak.
Banyak hal yang bisa disyukuri dalam hidup meski dalam kesempitan sekali pun. Karena Allah tidak mungkin menguji seorang hamba kecuali berdasarkan kadar kesanggupannya.
Semakin banyak bersyukur, semakin banyak energi positif terkumpul dan menjadikan kota bersemangat dalam hidup.
Tips kelima, bersemangat dalam beribadah.
Banyak orang yang tersinggung jika kestabilan emosi dikait-kaitkan dengan ibadah. Nyatanya, inilah ikhtiar kita untuk lebih mendekatkan diri pada Allah sang penguasa hati.
Allahlah yang membolak-balikkan hati seseorang. Dari sedih menjadi bahagia, dari susah menjadi senang, dari berduka menjadi bersemangat.
Jika merasa sudah banyak beribadah tapi emosi masih saja tidak stabil, coba cek dulu barangkali ada yang salah dengan ibadah kita. Entah dari ketepatan waktunya, dari tata caranya yang kurang tepat, atau dari niatnya yang mungkin kurang ikhlas.
Tips keenam, tinggalkan hal-hal yang bukan urusan kita.
Sudah bukan hal yang asing lagi. Emak-emak identik dengan ghibah dan ngomentarin orang lain. Padahal hal itulah yang memicu potensi lebih mudah emosi bagi para emak-emak.
Dari ghibah, muncul sikap-sikap tercela yang lain, seperti hasad (iri dengki), namimah (adu domba), ujub (bangga diri) dan lain sebagainya.
Jadilah lebih banyak para ibu yang bersaing untuk memuaskan rasa ingin dihargai atau dianggap lebih unggul dari kehidupan orang lain daripada para ibu yang saling mendukung dan menghargai ibu lainnya.
Tapi apa sih manfaatnya menjatuhkan orang lain untuk kemudian diri kita dianggap paling unggul?
Hanya pujian-pujian semu yang tidak membawa keberkahan dari kehidupan kita. Yang ada hanyalah menunggu masa balasan dari Allah atas kejahatan lisan kita. Berapa banyak yang hidupnya justru berbalik menjadi seperti apa yang sering dia ghibahi atau komentari.
Jadi, stop ikut campur dalam kehidupan orang lain jika tidak diminta bantuan atau solusi darinya.
Membantu orang menyelesaikan kepelikan hidupnya juga ada adabnya. Tidak serta merta kita langsung seolah punya andil untuk ikut campur apalagi menyebarkan aibnya.
Tips ketujuh, tentu saja mohon pertolongan Allah untuk dimudahkan.
Ikhtiar dan doa selalu berjalan sejajar beriringan agar kita tidak merasa melakukan semuanya sendirian. Tentu semua karena Allah yang memberi keleluasaan.
Jangan sekali-kali putus asa dari pertolongan Allah. Tetap optimis bahwa kita bisa melakukan yang lebih baik dan terus lebih baik dari diri kita di masa sebelumnya.
Baiqlah, itu tadi tentang manajemen emosi. Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat bagi teman-teman.
Terima kasih yang sudah berkenan mampir dan membaca.
Wassalamualaikum :)
Sidoarjo, 4 November 2021.