Minggu, 31 Oktober 2021

Catatan Seorang IRT (hari ke empat)

 ~Lebih Semangat Sejak Menikah~

Hari ini bingung sih, mau nulis tentang apa. Nulis tentang sekilas kehidupan setelah menikah ajalah ya, hehe. 

Jadi, aku ngerasa setelah nikah itu jadi lebih rajin daripada sebelum nikah (ya haruslah ya, hehe). Lebih dewasa dan lebih semangat setelah menikah. 

Memang sih, banyak yang bilang menikah itu nggak seperti drama Korea, mikir ini dan itu. Tapi menurutku, ujian kan memang bagian dari kehidupan, mau jomblo maupun udah nikah. Kalau sudah nikah, senengnya tuh kayak membangun sebuah dinasti kerajaan gitu, ada ratu ada raja dan pasukan-pasukannya. Tentunya semakin besar daya juangnya, semakin Allah kasih lebih kan pahala, aamiin. 

Terus apalagi ya? Kayaknya itu dulu deh. Rada bingung mau nulis apalagi, hehe. 

Sekian dulu tulisan tydak penting dariku, hehe. 

Wassalamualaikum :) 


Sidoarjo, 1 November 2021

6:22 wib

Jumat, 29 Oktober 2021

Catatan Seorang IRT (hari ke 3)

 ~Tips Mudah Menghafal AlQuran untuk Anak Usia Dini~

Memang selalu ada pro kontra selama kita hidup di dunia. Salah satunya adalah mengajari anak di usia dini. Saya termasuk yang mendukung anak untuk kenal alquran di usia sedini mungkin, bahkan sejak dalam kandungan. 

Ternyata ada juga yang kontra, yaitu menganggap anak usia dini masih usia bermain dan anak-anak kecil yang sudah diajari hafalan alquran termasuk eksploitasi anak. 

Mungkin ada benarnya juga kalau anak usia dini merupakan usia bermain. Tetapi kan sayang banget kalau mainnya cuma sekadar main-main aja dan nggak ada unsur edukasinya. Bermain pun bisa disisipi pelajaran akhlak dan adab, bisa juga pengenalan pada ayat-ayat alquran tanpa membebaninya. 

Untuk anakku, aku masukkan ke tpq di usia 2 tahun. Bukan karena ibuknya males ngajarin. Tapi lebih ke ingin dia belajar bersosialisasi dengan teman yang lain tapi di lingkungan yang berbasis quran. Aku juga memilihkan tpq yang ada unsur paudnya, jadi di sana juga ada mainannya. 

Selama 5 bulan pertama di TPQ, anakku sama sekali nggak mau mengeluarkan suara. Jadi ke sana ya cuma datang dan main saja. Bahkan pernah sampai sana dia nangis atau ketiduran, terus aku kembali pulang ke rumah. Tapi tetap besoknya aku antarkan ke TPQ, karena tujuan utamaku bukan anak supaya lekas bisa. 

Setelah 5 bulan berlalu, dia mulai mau bersuara. Mulailah dia belajar huruf hijaiyah dan hafalan-hafalan lainnya. Aku nggak pernah berusaha menekannya. Aku cuma memfasilitasinya sebagai ikhtiarku membiasakan dia mencintai alquran sejak dini. 

Di rumah, kunyalakan speaker murrotal untuk membuatnya lebih mencintai kalam Allah dibanding suara musik. Ternyata, hal sesederhana itu bisa membuatnya cepat hafal ayat alquran di usia dini. 

Mungkin ada yang mengira aku memaksa anakku untuk terus murojaah ayat alquran. Padahal, aku tipikal ibu yang santai dengan pencapaian anakku. Aku hanya sering memotivasinya dengan banyak hal menyenangkan jika menghafal alquran. Misalkan disayang Allah, mendapat banyak pahala, dan terkadang juga aku kasih reward berupa snack, mainan atau sekadar jalan-jalan keliling kampung. 

Lalu kuncinya juga ada pada orang tua, orang tua juga harus ikut proses menghafal alquran jika ingin anaknya bisa menghafal alquran. Maka anak akan lebih punya teladan yang mereka lihat setiap hari di rumah. 

Bahkan, ketika aku kelepasan untuk bersenandung lagu, si anak mengingatkan untuk beristighfar. Padahal usianya masih 3 tahun. Alhamdulillah bi ni'matihi tatimusshoolihat. 

Namun, dia hanyalah anak kecil biasa seperti anak pada umumnya. Tetap ada masa tantrum, nangis, ngambek, yang tentu menguras kesabaran orang tuanya. Aku ingin anakku tumbuh menjadi pribadi yang bisa mengendalikan emosi. Maka aku pun berusaha menahan diri untuk melepaskan emosi kemarahan yang berlebihan. Tak putus berdoa selalu kepada Allah agar aku dikuatkan untuk menjadi orang tua yang sabar tapi tetap tegas. 

Sekarang dia sudah bisa membaca huruf hijaiyah bersambung, dan mulai kukenalkan dengan tanwin. Meskipun di TPQ-nya, dia masih mengulang-ulang terus huruf hijaiyah dasar untuk pemantapan makhroj huruf. 

Karena aku melihat dia jenuh dengan pengulangan-pengulangan, jadi di rumah juga aku ajari sesuai dengan kemampuan dia yang sudah dapat membaca huruf hijaiyah bersambung dan mulai mengenal tanwin. 

Untuk huruf alfabet, dia sudah mulai merengek minta diajari membaca, tapi aku masih takut menjejalinya dengan banyak hal. Jadi hanya aku kenalkan sekadarnya saja. Biar nanti usia empat tahun saja baru kuajari membaca alfabet, itu pun tidak kutarget supaya langsung bisa. Agar si anak tidak jenuh belajar atau kehilangan masa bermainnya juga. 

Kalau untuk alquran, aku tidak takut untuk los. Mau dia bisa hafal 30 juz sekalipun, insyaa Allah tidak takut. Karena semakin di dada anak menyimpan kalam Allah, insyaa Allah semakin Allah jaga. 

Tapi kalau di usia dini sudah bisa membaca, berhitung dan pelajaran umum lainnya, aku masih agak takut. Karena menurutku masih usia dini kasian sel otaknya yang masih berkembang. Meskipun begitu, tidak masalah sih kalau ternyata anaknya mampu, asalkan jangan sampai di tekan. Orang tua harus peka. 

Perlu diingat, kemampuan tiap anak berbeda. Mungkin ada yang anaknya lambat ketika diajari menghafal atau membaca, tapi ternyata dia punya kelebihan mengelola emosinya baik (dewasa) atau dia pandai di hal yang berkaitan dengan kerajinan (kinestetik) atau kepandaian yang lain. 

Contohnya anakku, kalau menghafal cepat, kalau kegiatan mewarna atau meronce dia kurang sabar. Nggak masalah, sebagai orang tua harus mendukungnya kelebihannya dan jangan sudutkan dia karena kekurangannya. 

Intinya semua anak itu lahir istimewa ya, buk :). Susah payah dikandung 9 bulan, masak mau dijadikan robot sesuai kemauan kita? Dia adalah buah hati kita yang butuh kasih sayang, perawatan, pengasuhan dan pendidikan penuh cinta dari kita :).  Yang paling penting, semoga dia tumbuh dewasa menjadi anak yang berbakti pada orang tua dan taat pada Allah :). 

Ini hanya pendapatku pribadi. Mungkin ada yang setuju ada yang tidak, itu pilihan. 

Ya sudah segitu dulu :)  Semoga bermanfaat. 

Wassalamualaikum. 

Sidoarjo, 30 oktober 2021

6:39 WIB

Kamis, 28 Oktober 2021

Catatan Seorang IRT (hari ke 2)

 ~ Tentang Toilet Training~

Aku termasuk ibu yang cuek tapi diam-diam mempelajari dan berusaha. Termasuk ketika anak aku pakein pampers atau clodi. Jadi ketika ada yang bolak balik ngomenin anakku yang dipakaikan pampers atau kadang clodi, aku iya iya aja yang agak ambigu. Antara aku ini beneran nge-iyain apa cuma sekadar iya tapi nggak ngedengerin. Tapi aku menghargai kok kalau ada sebuah komentar dilayangkan ke aku, entah negatif atau positif. Mungkin aja maksudnya peduli, tapi ada yang nggak pinter menata kalimat jadi kesannya membully. 

Sebenernya pengennya sih nggak memakaikan pampers ke anak. Keteteran pekerjaan rumah gegara nyuci banyak, its oke, tapi kalau keteteran sholat, oh big no no. Jadi aku memilih untuk memakaikan pampers ketika aku resmi resign kerja dan anak aku urus sendiri. 

Tepatnya di usia dia yang 5 bulan sampai dia mulai bisa berdiri dan jalan di usia sekitar 18 bulan masih aku pakaikan pampers. Di usia 18 bulan (bisa jalan) barulah aku berani untuk melepas pampersnya. Karena dia kalau ngompol kan nggak harus digendong dan mengenai bajuku, jadi cukup amanlah aku nggak harus gonta ganti baju biar suci untuk sholat. 

Cukup melelahkan sampai suami yang malah diam-diam masangin pampers ke anakku, hihi. Aku sounding ke suami bahwa lepas pampers memang repot tapi harus mulai belajar supaya anak nanti nggak keterusan pakai pampers. Sounding ini tentu ndak mudah.. Karena suami mulai benar-benar dukung untuk anak lepas pampers di usia dua tahun lebih. 

Tentu perlu telaten dan perjuangan. Saat itu, kalau si anak berangkat ke TPQ (aku masukin anak ke TPQ Paud di usia 2 tahun) , masih aku pakaikan pampers sampai akhirnya di usianya menjelang tiga tahun, dia mulai bisa ngomong dan nahan sebentar kalau belet pipis, jadi nggak sampai ngompol di masjid, alhamdulillah. 

Dan pup nya juga sudah jongkok di toilet sebelum usia tiga tahun. Padahal aku nggak pernah intens belajar tentang toilet training. Karena aku lebih suka belajar tentang pola pengasuhan dan pendidikan anak di bagian adab dan akhlaknya. Tahu sendiri kan IRT itu rempongnya gimana, jadi nggak bisa semua dipelajari. Apalagi aku juga belajar yang lain. Jadi kayak mengalir aja gitu belajarnya sembari praktek. 

Alhamdulillah, nyaman banget lho kalau melakukan sesuatu bukan sekadar buat pembuktian pada orang-orang yang meragukan kita. Aku melakukan yang terbaik untuk anakku ya semata-mata karena ini amanah dari Allah yang harus aku jaga dan perlakukan dengan baik. 

Tentu memang saat hati sedang rapuh, agak baper pas ada komenan ini itu tentang anak kita. Mungkin saat melihat anak yang dipakaikan pampers sama ibunya, beberapa orang biasanya menilai bahwa ibu itu pemalas dan nggak mau ribet. Dan juga sudah meramal bahwa si anak itu bakal keterusan pakai pampers sampai TK. 

Alhamdulillah, setiap ibu pasti punya alasan yang terbaik saat memperlakukan anaknya. Kalau ada masukan, tentu dengan lapang dada aku terima dengan senang hati. Cuma kalau terus mendikte dan menjudge, mungkin aku abaikan bagian itu untuk menjaga kewarasan hatiku. 

Gimana caranya bisa anak pup dan pipis di kamar mandi? Bahkan sekarang bisa cebok sendiri di usia tiga tahun, gimana caranya? 

Intinya ikhtiar dengan mencopot pampersnya dan terus menasehati si anak dengan bahasa lembut 'kalau mau BAB dan BAK di toilet aja ya'. 'Kalau mau BAB atau BAK ngomong dulu, jangan langsung keluar ya sebelum ke toilet'. 

Awal -awal tentunya dia pastinya ngompol di lantai dulu, tapi tetaplah sabar. Dan pahami ekspresi anak kalau dia mau pup. Kalau kita sudah hafal, kita bisa langsung menggendong dia ke toilet dan mengajarinya jongkok di toilet. 

Jangan lupa terus berdoa supaya kita dikuatkan dan dimudahkan. Dikuatkan kesehatan fisik maupun mentalnya dalam proses ini. Karena pastinya cucian bakal bergunung-gunung. Tentu melelahkan, apalagi yang nyucinya ngucek-ngucek nggak pakai mesin cuci kayak aku, hehe. Jangan khawatir, panen pahala di balik lelahmu, ibu :). 

Terus kalau dia udah lihai pipis di toilet, pelan-pelan ajari cara cebok dan nyiram yang benar. Didampingi dan diawasi terus untuk tahap awal, karena belum tentu bersih dan kadang si anak malas cebok, cuma siram-siram aja, hihi. 

Dan sekarang aku di tahap ini, mengawasi anak cebok sendiri. Persiapan kalau nanti dia punya adek, aku nggak terlalu rempong ngurusin dua anak, hihi. 

Akhir kata, semua kemudahan dari Allah. Kalau berhasil, semata-mata karena Allah memudahkan ikhtiar kita. Jadi jangan sombong apalagi mengomentari ibu lain yang belum berhasil dalam ikhtiarnya. Daripada ngomenin, mending ikut berdoa untuk kelancaran ikhtiarnya :). 

Oke, segitu dulu deh.. mau persiapan mandi buat berangkat ke TPQ. Wassalamualaikum :) 

~Sidoarjo, 29 Oktober 2021~

6.54 WIB


Rabu, 27 Oktober 2021

Catatan Seorang IRT (hari ke 1)

 ~Si Kecil yang sedang Berkembang~


Bismillah, hari ini tepatnya tanggal 28 Oktober 2021,insyaa Allah aku mulai kembali menulis kembali setelah beberapa bulan vakum dari dunia tulis menulis. 

Ya, meskipun hanya menuangkan di blog. Setidaknya pelemasan jari jemari. Meskipun juga mungkin tulisannya hanya tulisan receh berupa daily activity aja.

Ceritanya, semakin si kecil tumbuh besar, semakin nggak mudah juga ya ternyata untuk lebih produktif. Saat dia bayi, mungkin aku kerepotan juga, tapi nyatanya tetep bisa produktif menulis, membuat kue dan membuat konten youtube. 

Ketika usia si kecil mulai menginjak ke tiga tahun, di saat itu dia mulai ada di fase menunjukkan apa keinginannya dan mulai berkurang fase tidurnya. Setiap ibunya bangun, dia juga terbangun. Contohnya ya saat mengetik ini, baru dapat dua paragraf, eh si kecil sudah bangun dan minta makan, hehe. 

Alhamdulillah tapi si kecil nggak kecanduan gadget (semoga seterusnya). Jadi ngelihat ibunya nulis di hape, dia nggak berusaha ngerebut untuk memainkan hape, cuma minta perhatian aja sih, hihi. 

Kalau gitu ditutup dulu deh tulisannya. Kapan-kapan disambung lagi, insyaa Allah semoga Allah mudahkan :). 

Wassalamualaikum. 

10 Motivasi Menjadi Disiplin

Untuk menjadi orang yang disiplin, ada banyak alasan yang bisa memotivasi kita. Salah satunya adalah karena dengan menjadi orang yang disipl...