Jumat, 29 Oktober 2021

Catatan Seorang IRT (hari ke 3)

 ~Tips Mudah Menghafal AlQuran untuk Anak Usia Dini~

Memang selalu ada pro kontra selama kita hidup di dunia. Salah satunya adalah mengajari anak di usia dini. Saya termasuk yang mendukung anak untuk kenal alquran di usia sedini mungkin, bahkan sejak dalam kandungan. 

Ternyata ada juga yang kontra, yaitu menganggap anak usia dini masih usia bermain dan anak-anak kecil yang sudah diajari hafalan alquran termasuk eksploitasi anak. 

Mungkin ada benarnya juga kalau anak usia dini merupakan usia bermain. Tetapi kan sayang banget kalau mainnya cuma sekadar main-main aja dan nggak ada unsur edukasinya. Bermain pun bisa disisipi pelajaran akhlak dan adab, bisa juga pengenalan pada ayat-ayat alquran tanpa membebaninya. 

Untuk anakku, aku masukkan ke tpq di usia 2 tahun. Bukan karena ibuknya males ngajarin. Tapi lebih ke ingin dia belajar bersosialisasi dengan teman yang lain tapi di lingkungan yang berbasis quran. Aku juga memilihkan tpq yang ada unsur paudnya, jadi di sana juga ada mainannya. 

Selama 5 bulan pertama di TPQ, anakku sama sekali nggak mau mengeluarkan suara. Jadi ke sana ya cuma datang dan main saja. Bahkan pernah sampai sana dia nangis atau ketiduran, terus aku kembali pulang ke rumah. Tapi tetap besoknya aku antarkan ke TPQ, karena tujuan utamaku bukan anak supaya lekas bisa. 

Setelah 5 bulan berlalu, dia mulai mau bersuara. Mulailah dia belajar huruf hijaiyah dan hafalan-hafalan lainnya. Aku nggak pernah berusaha menekannya. Aku cuma memfasilitasinya sebagai ikhtiarku membiasakan dia mencintai alquran sejak dini. 

Di rumah, kunyalakan speaker murrotal untuk membuatnya lebih mencintai kalam Allah dibanding suara musik. Ternyata, hal sesederhana itu bisa membuatnya cepat hafal ayat alquran di usia dini. 

Mungkin ada yang mengira aku memaksa anakku untuk terus murojaah ayat alquran. Padahal, aku tipikal ibu yang santai dengan pencapaian anakku. Aku hanya sering memotivasinya dengan banyak hal menyenangkan jika menghafal alquran. Misalkan disayang Allah, mendapat banyak pahala, dan terkadang juga aku kasih reward berupa snack, mainan atau sekadar jalan-jalan keliling kampung. 

Lalu kuncinya juga ada pada orang tua, orang tua juga harus ikut proses menghafal alquran jika ingin anaknya bisa menghafal alquran. Maka anak akan lebih punya teladan yang mereka lihat setiap hari di rumah. 

Bahkan, ketika aku kelepasan untuk bersenandung lagu, si anak mengingatkan untuk beristighfar. Padahal usianya masih 3 tahun. Alhamdulillah bi ni'matihi tatimusshoolihat. 

Namun, dia hanyalah anak kecil biasa seperti anak pada umumnya. Tetap ada masa tantrum, nangis, ngambek, yang tentu menguras kesabaran orang tuanya. Aku ingin anakku tumbuh menjadi pribadi yang bisa mengendalikan emosi. Maka aku pun berusaha menahan diri untuk melepaskan emosi kemarahan yang berlebihan. Tak putus berdoa selalu kepada Allah agar aku dikuatkan untuk menjadi orang tua yang sabar tapi tetap tegas. 

Sekarang dia sudah bisa membaca huruf hijaiyah bersambung, dan mulai kukenalkan dengan tanwin. Meskipun di TPQ-nya, dia masih mengulang-ulang terus huruf hijaiyah dasar untuk pemantapan makhroj huruf. 

Karena aku melihat dia jenuh dengan pengulangan-pengulangan, jadi di rumah juga aku ajari sesuai dengan kemampuan dia yang sudah dapat membaca huruf hijaiyah bersambung dan mulai mengenal tanwin. 

Untuk huruf alfabet, dia sudah mulai merengek minta diajari membaca, tapi aku masih takut menjejalinya dengan banyak hal. Jadi hanya aku kenalkan sekadarnya saja. Biar nanti usia empat tahun saja baru kuajari membaca alfabet, itu pun tidak kutarget supaya langsung bisa. Agar si anak tidak jenuh belajar atau kehilangan masa bermainnya juga. 

Kalau untuk alquran, aku tidak takut untuk los. Mau dia bisa hafal 30 juz sekalipun, insyaa Allah tidak takut. Karena semakin di dada anak menyimpan kalam Allah, insyaa Allah semakin Allah jaga. 

Tapi kalau di usia dini sudah bisa membaca, berhitung dan pelajaran umum lainnya, aku masih agak takut. Karena menurutku masih usia dini kasian sel otaknya yang masih berkembang. Meskipun begitu, tidak masalah sih kalau ternyata anaknya mampu, asalkan jangan sampai di tekan. Orang tua harus peka. 

Perlu diingat, kemampuan tiap anak berbeda. Mungkin ada yang anaknya lambat ketika diajari menghafal atau membaca, tapi ternyata dia punya kelebihan mengelola emosinya baik (dewasa) atau dia pandai di hal yang berkaitan dengan kerajinan (kinestetik) atau kepandaian yang lain. 

Contohnya anakku, kalau menghafal cepat, kalau kegiatan mewarna atau meronce dia kurang sabar. Nggak masalah, sebagai orang tua harus mendukungnya kelebihannya dan jangan sudutkan dia karena kekurangannya. 

Intinya semua anak itu lahir istimewa ya, buk :). Susah payah dikandung 9 bulan, masak mau dijadikan robot sesuai kemauan kita? Dia adalah buah hati kita yang butuh kasih sayang, perawatan, pengasuhan dan pendidikan penuh cinta dari kita :).  Yang paling penting, semoga dia tumbuh dewasa menjadi anak yang berbakti pada orang tua dan taat pada Allah :). 

Ini hanya pendapatku pribadi. Mungkin ada yang setuju ada yang tidak, itu pilihan. 

Ya sudah segitu dulu :)  Semoga bermanfaat. 

Wassalamualaikum. 

Sidoarjo, 30 oktober 2021

6:39 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

10 Motivasi Menjadi Disiplin

Untuk menjadi orang yang disiplin, ada banyak alasan yang bisa memotivasi kita. Salah satunya adalah karena dengan menjadi orang yang disipl...