~Manajemen Keuangan Bebas Utang & Riba~
Bismillah.
Assalamualaikum ...
Bahasan kali ini judulnya kayak motivator-motivator finansial gitu ya. Tapi aku nggak pengen bahas ini dengan formil meskipun aku pernah menempuh pendidikan di jurusan manajemen.
Bahasan kali ini pun juga bukan berdasar dari teori yang pernah aku pelajari, tapi dari pengalaman aja. Karena aku memang berkarakter plegmatis, jadi nggak terlalu telaten untuk yang detail atau terperinci.
Jadi, manajemen keuangan bebas utang dan riba itu sebenarnya rumusnya simple bagiku.
Yang pertama adalah niat untuk sebuah komitmen.
Jadi, tanamkan niat sungguh-sungguh dalam hati kalau kita mau jadi muslim yang amanah agar terbebas dari tanggungan utang. Karena seperti yang kita ketahui, Rasulullah pun enggan menyolati orang yang masih punya tanggungan utang di dunia. Ini menandakan kalau Rasulullah ingin mengajarkan umatnya untuk bertanggung jawab menuntaskan amanahnya, terutama yang berkaitan dengan muamalah kepada orang lain agar terhindar dari sikap dzolim.
Kalau kita benar-benar meniatkan itu. Maka saat kita punya utang, kita tidak menganggap utang itu sebagai rejeki, tapi malah sebagai beban yang kita harus selalu ingat dan membayarnya. Entah itu kita cicil atau kita bayar cash langsung, yang jelas kalau dari diri kita sudah ditanamkan niat agar bebas utang, maka insyaa Allah diberi kemudahan Allah untuk melunasinya.
Yang kedua, sederhanakan gaya hidup.
Gaya hidup ini erat kaitannya dengan hawa napsu. Jadi napsu yang ingin makan enak, jalan-jalan di saat keuangan mepet, sebaiknya ditahan dulu, deh. Prioritaskan yang pokok dulu. Misalkan uang kita lima puluh ribu, tahan dulu keinginan untuk makan di luar. Belanja sederhana atau beli lauk sederhana yang kira-kira masih ada sisa uang untuk ditabung.
Ini kualami saat masih bujang dulu. Meski bujang tapi karena anak pertama dan kuliah dengan biaya sendiri, jadi harus pinter-pinter ngatur keuangan.
Pernah pas keuangan lagi mepet, aku cuma makan mie burung dara direbus, dicampur royco. Karena kalau mie instan berbumbu kan lebih mahal meski selisih sedikit. Meski sebenarnya orang warung mempersilahkan aku untuk berutang, tapi aku nggak pengen punya tanggungan hanya demi makan enak. Nanti jadi kebiasaan.
Karena targetku, kalau aku menikah, aku sudah tidak punya utang bayar kuliah atau apapun. Malah kalau bisa sudah punya tabungan nikah.
Yang ketiga, rajin-rajin bersyukur.
Bersyukur adalah power untuk menikmati hidup. Tanpa rasa syukur, hidup terasa hambar bagai sayur tanpa bumbu.
Jika kita bersyukur, kita akan merasa cukup dan puas dengan kehidupan kita. Makan nasi lauk kecap dan kerupuk akan menjadi nikmat ketika kita mengingat bahwa masih banyak yang tidur di emperan jalan karena nggak punya tempat tinggal dan uang buat sewa tempat tinggal.
Tapi, makan nasi lauk brengkes tongkol sayur asem akan menjadi seolah nelangsa kalau yang kita lihat adalah gaya hidup bak selebriti yang bisa jalan-jalan dan makan di restoran sepuasnya.
Biarinlah dinyinyirin orang karena kita hidup sederhana, daripada mempertahankan gaya hidup tapi dengan utang yang belum tentu umur kita cukup untuk melunasinya.
Yang keempat, atur skala prioritas dengan sesekali (atau kalau bisa rutin malah bagus) buatlah catatan pengeluaran selama sebulan. Dari situ kita bisa tahu mana yang bikin boros. Misalkan kebanyakan makan di luar atau pampers anak yang bikin banyak pengeluaran. Jadi kita bisa cari solusinya.
Misal, saat aku menyadari pampers anak adalah salah satu pemborosan, maka aku pelan-pelan mengurangi pemakaiannya. Jadi ada masa aku harus kerepotan mengepel pipisnya dan ada masa aku bisa bebas melakukan pekerjaan rumah karena anak kupakaikan popok.
Kemudian kita harus bijak dalam mengatur prioritas pengeluaran. Jangan mudah tergoda untuk berbelanja barang yang bukan prioritas kecuali kita memang sudah punya anggaran khusus dari kelebihan uang belanja kita.
Yang kelima, tetaplah bersedekah dan menabung meski sedikit.
Sedekah meski hanya mampu lima ratus perak di waktu sempit itu lebih baik dari pada tidak sama sekali. Tetapi saat keuangan membaik jangan lupa tingkatkan nominalnya. Sedekah adalah tabungan akhirat kita di dunia, jangan sampai kita sia-siakan.
Menabung juga begitu, menabung sedikit demi sedikit lebih baik daripada tak punya tabungan sama sekali. Menabung bisa jadi motivasi kita untuk tidak mudah boros dan menghamburkan uang tanpa perhitungan.
Yang keenam atau terakhir, mohon pertolongan Allah agar diberi kemudahan dan jangan sampai kita merendahkan orang lain yang hidupnya masih terlilit utang entah karena gaya hidup ataupun memang kebutuhan.
Kita bisa hidup bebas dari utang karena Allahlah yang memudahkan. Bukan semata-mata karena kita hebat. Jadi jangan sekali-kali nyinyirin orang lain. Perbanyak istighfar lebih melapangkan rejeki daripada ghibah yang menggerus pahala.
Untuk terbebas dari utang atau riba memang butuh berjuang. Karena terkadang ujiannya bukan dari diri sendiri tapi dari keluarga. Misalkan keluarga yang tidak bisa untuk makan apa adanya membuat pengeluaran jadi lebih boros.
Maka kita harus lebih sabar dan telaten untuk menyiasatinya. Entah itu dengan telaten memberi pengertian tentang bersyukur dan berhemat, atau kita menyiasati dengan belajar memasak masakan yang terlihat wah dengan bahan yang sebenarnya tidak mengeluarkan banyak biaya.
Atau anak yang suka jajan, pelan-pelan kita beri pengertian untuk mengurangi kebiasaan jajannya. Bisa juga kita buatkan cemilan-cemilan sederhana buat si anak.
Nah, kayaknya itu aja deh saran dari aku. Coba dipraktekkan. Bisa juga ditambah sendiri sesuai dengan kemampuan teman-teman. Misalkan untuk terbebas dari utang bisa menjalankan bisnis kecil-kecilan.
Apa pun itu, semoga niat baik teman-teman bisa diberi kemudahan oleh Allah.
Tetap semangat dan utamakan ibadah :).
Wassalamualaikum.
Sidoarjo, 3 November 2021.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar