Aib, memang seharusnya ditutupi. Namun jangandisalah artikan menjadi manusia munafik. Yang dimaksud disini adalah jika kita melakukan sebuah khilaf, kita tidak perlu membukanya.
Aib sendiri, lebih mudah kita jaga dibandingkan menjaga aib orang lain. Seringkali kita puas dan bangga membicarakan dan membuka aib orang lain. Seakan kita menjadi orang yang serba tahu.
Kenapa kita tidak perlu membicarakan aib orang lain?
Berikut ini 8 alasannya:
1. Aib adalah sesuatu yang memalukan
Ibarat sebuah pakaian. Apa kita bisa disebut manusia yang baik jika kita melepas pakaian orang lain.
2. Kita juga punya aib
Setiap manusia pasti punya aib. Kita tahu rasanya jika aib kita dibuka. Pasti malu bukan?
3. Seperti makan bangkai saudaranya
Dalam islam, membicarakan aib orang lain sama dengan kita memakan bangkainya. Padahal bangkai itu haram dimakan dan menjijikkan bukan?
4. Melatih diri menjadi manusia bijak
Semakin kita menahan diri untuk tidak membicarakan aib orang. Secara tak sadar melatih diri kita untuk lebih bijak menyikapi segala sesuatu dan tidak mudah diadu domba.
5. Hidup kita lebih penting
Hidup kita jauh lebih penting bukan? Masih banyak harapan dan tanggung jawab yang perlu kita selesaikan. Buat apa menambah beban dengan mengurusi urusan orang lain.
6. Membicarakan aib bukan bentuk kepedulian
Kadang kala kita mengira kita peduli dengan membicarakan aib orang. Padahal sama sekali tidak. Sangat berbeda membicarakan aib dengan langsung menegurnya.
7. Lebih baik menegur langsung
Bentuk peduli secara nyata adalah menegurnya secara langsung. Selain lebih elegan, ini melatih kita untuk menjadi manusia yang berani.
8. Hikmah tak harus diambil dari aib orang
Banyak kisah teladan para sahabat nabi yang bisa kita petik hikmah darinya. Modus mengambil hikmah dari aib orang lain adalah sesuatu yang keliru.
8 alasan itu, apakah sudah cukup untuk menguatkan kita lebih berlatih menjaga lisan? :)
Kalau belum, bisa tambahkan di kolom komentar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar