Bismillah…
Sukses digambarkan secara umum dengan limpahan materi dan kebahagiaan yang tampak luar. Hingga terkadang terlalu terfokus pada kebutuhan lahiriah dan mengabaikan kebutuhan rohani yang tanpa disadari semakin kering dan gersang.
Kenyataannya tidak serumit itu. Sukses bisa menjadi nampak rumit manakala hati dan pikiran dipenuhi dengan ambisi-ambisi dunia yang tak pernah ada ujung pangkalnya. Penuh persaingan, penuh hasad dan keinginan yang tak akan pernah puas.
Sukses dapat menjadi amat sederhana dengan secara senang hati rajin memasuki ruang syukur dalam sebuah pulau yang hanya ada diri dan sudut pandang pribadi. Tarik napas dalam-dalam dan embuskan perlahan. Telusuri segala nikmat dan anugerah yang telah dibentangkan oleh sang Maha Segalanya.
Mungkin hidup tak selamanya lurus, terkadang berkelok hingga seakan menemui jalan buntu.
Sebuah firman Allah yang artinya :
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30)
Pada ruang gelap yang bernama ujian hidup, adalah ruang muhasabah (instrospeksi diri). Ruang yang mengisyaratkan kita untuk berhenti sejenak dari segala ambisi dan ketidak puasan, ruang yang meminta kita untuk berhenti sejenak dari seringnya kita menyiksa diri dengan lebih banyak melihat ke atas, menunduklah dan pandangi sekitar. Begitu banyak yang lebih berat ujian hidupnya.
Memang kekuatan manusia masing-masing tidak bisa disama ratakan. Namun dengan cara menunduk, setidaknya kita tahu bahwa kita tidak sendiri memikul berat ujian hidup.
Ujian yang muncul dengan beragam rupanya, yang terkadang seolah membuat rapuh. Walau sejatinya tanpa disadari membuat manusia semakin kuat. Bagai besi yang senantiasa ditempa.
Milikilah sukses kita sendiri tanpa perlu terpenjara dengan doktrin sukses milik manusia lain. Dengan mensyukuri apa pun yang kita miliki dan memaksimalkan kebermanfaatan diri kita untuk berbagi.
Sukses sejati adalah yang semakin menjadikan diri lebih baik dan lebih dekat kepada sang pencipta. Jika memang tak bisa banyak menebar manfaat, setidaknya tidak merugikan atau mendzolimi manusia atau makhluk Allah yang lain. Itulah hakikat sukses yang paling sejati.
…
Sidoarjo, 8 Oktober 2020
Hanum A. Azkawati
(Juga tayang di hanumazkawati.wordpress.com)
Ya, yang penting banyak bersyukur dan terus berusaha jadi lebih baik, ya
BalasHapusbener banget mbak ^_^ terima kasih sudah mampir 💕💕
Hapus